
Cara Sembahyang Buddha di Rumah: Panduan Lengkap untuk Pemula
Ringkasan Artikel
Panduan lengkap tata cara sembahyang Buddha di rumah untuk pemula, termasuk persiapan, doa, dan waktu yang tepat.
Banyak orang ingin mulai bersembahyang di rumah tetapi ragu karena merasa tidak tahu tata caranya. Kabar baiknya, yang paling pokok justru sederhana dan tidak menuntut perlengkapan mahal.
Bedakan dulu tradisi yang Anda ikuti
Ini langkah pertama yang menentukan segalanya. Umat Buddha di Indonesia terbagi dalam tradisi yang berbeda, dan tata caranya memang tidak sama.
Theravada memakai bacaan berbahasa Pali dengan urutan yang cukup baku. Mahayana, yang banyak diikuti kalangan Tionghoa termasuk di kelenteng dan vihara Tridharma, memakai pelafalan nama Buddha serta mantra dalam bahasa Sanskerta dan Mandarin.
Bila keluarga Anda sudah punya kebiasaan, ikuti itu — kebiasaan keluarga lebih tepat daripada panduan mana pun. Uraian di bawah untuk yang benar-benar memulai dari nol.
Menyiapkan tempatnya
Anda tidak memerlukan ruang khusus. Panduan praktik umat awam menyebut urutan pilihan yang masuk akal untuk rumah kecil: sebuah kamar kecil bila ada, atau lemari yang cukup lapang, atau menyekat sebagian ruangan dengan tirai. Bila semuanya tidak memungkinkan, sebuah meja yang cukup besar atau rak tinggi di dinding sudah memadai.
Yang tidak boleh dilepas adalah ketinggiannya. Patung Buddha menempati bagian tertinggi, dan tidak diletakkan di perapian atau perabot serbaguna. Rinciannya dibahas di tinggi altar Buddha yang ideal, sedangkan pemasangan menyeluruh ada di panduan pasang altar Buddha di rumah.
Ruangannya sebaiknya bersih dan rapi, tidak terlalu terkena sinar matahari langsung, tetapi juga tidak gelap.
Urutan sembahyang tradisi Theravada
Tiga bacaan pokok, dibaca berturut-turut. Teks lengkapnya beserta artinya ada di doa sembahyang Buddha harian.
1. Vandana. Penghormatan yang diawali Namo tassa bhagavato arahato sammā-sambuddhassa, dibaca tiga kali.
2. Tisarana. Pernyataan Tiga Perlindungan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha, diulang tiga kali penuh.
3. Pancasila. Lima tekad melatih diri, yang kalimatnya berbunyi aku bertekad melatih diri menghindari..., bukan aku dilarang.
Ketiganya hanya memakan beberapa menit. Bagi yang baru memulai, ini sudah merupakan sembahyang yang utuh.
Urutan tradisi Mahayana
Yang paling luas dipakai adalah pelafalan Namo Amituofo, penghormatan kepada Buddha Amitabha, yang diulang-ulang. Laku ini disebut nianfo.
Kesederhanaannya disengaja: cukup satu kalimat, tanpa perlengkapan, dan bisa dilakukan sambil berjalan maupun bekerja.
Sebagian keluarga menambahkan pembacaan mantra atau sutra. Teks-teks itu sebaiknya diminta dari vihara atau kelenteng tempat Anda beribadah, bukan disalin dari sumber yang tidak jelas.
Menyalakan hio
Bila keluarga Anda memakai hio, urutannya: nyalakan ujungnya sampai membara, padamkan apinya dengan mengibaskan, hormati sambil membungkuk, lalu tancapkan tegak ke dalam hio lo.
Jumlah batangnya bermakna dan tidak dipilih sembarangan. Keduanya dibahas di cara bakar hio yang benar dan arti jumlah hio sembahyang.
Perhatikan ventilasi ruangan. Alasannya dibahas terbuka di artikel tentang asap dupa.
Persembahan
Persembahan di altar umumnya berupa lambang: lilin untuk penglihatan, dupa untuk penciuman, serta buah atau makanan untuk pengecapan. Air, teh, dan bunga juga lazim.
Yang perlu diingat, persembahan dalam ajaran Buddha bukan pemberian kepada sosok yang membutuhkannya, melainkan laku melepas dan menghormat dari pihak yang mempersembahkan.
Beberapa hal yang meringankan
Tidak harus setiap hari sama panjang. Sembahyang singkat setiap hari lebih bernilai daripada yang panjang tetapi jarang.
Tidak harus paham seluruh bahasanya. Memahami artinya adalah bagian dari lakunya. Banyak umat membaca teks aslinya lalu merenungkan terjemahannya.
Tidak ada hukuman bila terlewat. Lima Sila pun berbentuk tekad melatih diri, bukan perintah dari luar.
Bila ragu, bertanyalah. Pandita atau bhikkhu di tempat ibadah Anda adalah rujukan yang lebih tepat daripada tulisan mana pun, termasuk yang ini. Perinciannya memang berbeda antar vihara, antar tradisi, dan antar keluarga.
Sumber Rujukan
- Access to Insight — Lay Buddhist Practice: The Shrine Room (Bhikkhu Khantipalo)
- dhammatalks.org — A Chanting Guide: Taking the Five Precepts
- Wikipedia — Nianfo
