Doa Sembahyang Buddha Harian: Paritta & Mantra yang Sering Dibaca
Panduan Sembahyang

Doa Sembahyang Buddha Harian: Paritta & Mantra yang Sering Dibaca

22 Maret 20269 menit

Ringkasan Artikel

Kumpulan doa dan paritta untuk sembahyang Buddha harian di rumah. Lengkap dengan arti dan cara membacanya.

Pertanyaan "doa apa yang dibaca setiap hari" tidak punya satu jawaban, dan itu bukan karena tidak ada aturannya. Umat Buddha di Indonesia terbagi dalam tradisi yang berbeda, dan bacaan hariannya memang tidak sama.

Kenali dulu tradisi keluarga Anda

Dua tradisi besar hidup berdampingan di Indonesia.

Theravada memakai bahasa Pali dan bacaan hariannya berpusat pada penghormatan, Tiga Perlindungan, dan Lima Sila. Bacaan pelindung dalam tradisi ini disebut paritta.

Mahayana, yang banyak diikuti kalangan Tionghoa dan lazim di kelenteng maupun vihara Tridharma, memakai bahasa Sanskerta dan Mandarin, dengan pelafalan nama Buddha dan mantra sebagai laku utama.

Bila keluarga Anda sudah punya kebiasaan, ikuti itu. Uraian di bawah untuk mereka yang belum tahu harus mulai dari mana.

Bacaan harian tradisi Theravada

Urutannya baku dan dibaca berturut-turut.

1. Vandana — penghormatan, dibaca tiga kali

Namo tassa bhagavato arahato sammā-sambuddhassa.

Artinya: penghormatan kepada Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna. Kalimat ini dibaca tiga kali dan mengawali hampir semua pembacaan.

2. Tisarana — Tiga Perlindungan

Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi. Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi. Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi.

Artinya berturut-turut: aku berlindung kepada Buddha, kepada Dhamma, dan kepada Sangha. Rangkaian ini diulang tiga kali penuh.

Menyatakan Tiga Perlindungan bersama Lima Sila, biasanya dituntun seorang bhikkhu, adalah cara tradisional seseorang menyatakan diri sebagai umat Buddha.

3. Pancasila — Lima Sila

Pāṇātipātā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi. Adinnādānā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi. Kāmesu micchācārā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi. Musāvādā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi. Surā-meraya-majja-pamādaṭṭhānā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi.

Artinya, berurutan: aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup; menghindari mengambil yang tidak diberikan; menghindari perbuatan asusila; menghindari ucapan tidak benar; dan menghindari minuman keras serta zat memabukkan yang melemahkan kewaspadaan.

Perhatikan kata sikkhāpadaṁ, yang berarti aturan latihan. Lima Sila bukan perintah dari luar melainkan tekad yang diucapkan sendiri — karena itu kalimatnya berbunyi "aku bertekad melatih diri", bukan "aku dilarang".

Bacaan harian tradisi Mahayana

Namo Amituofo

Namo Amituofo (南無阿彌陀佛)

Inilah laku yang paling luas dipakai, dikenal sebagai nianfo, yaitu pelafalan nama Buddha Amitabha secara berulang. Artinya penghormatan kepada Buddha Amitabha.

Dalam tradisi Tanah Suci, pelafalan ini terutama dipahami sebagai jalan untuk terlahir di Sukhavati, tanah suci Amitabha, melalui apa yang disebut "kekuatan lain" — yakni kekuatan ikrar welas asih Sang Buddha, bukan semata usaha sendiri.

Kesederhanaannya disengaja: cukup satu kalimat, bisa dibaca sambil berjalan atau bekerja, tanpa perlengkapan apa pun.

Da Bei Zhou — Mantra Welas Asih Agung

Dikenal dalam bahasa Mandarin sebagai 大悲咒 (Dàbēi zhòu), dan dalam bahasa Sanskerta disebut Nilakantha Dharani. Mantra ini terkait erat dengan perwujudan Avalokitesvara berlengan seribu — sosok yang di Indonesia dikenal sebagai Kwan Im.

Mantra ini sangat populer di Tiongkok, Taiwan, dan komunitas Tionghoa perantauan, termasuk Indonesia.

Sutra Hati

Sutra pendek yang paling banyak dibaca dalam Buddhisme Mahayana, dan secara tradisi juga dikaitkan dengan Avalokitesvara.

Teks lengkap Da Bei Zhou dan Sutra Hati sengaja tidak dimuat di sini. Keduanya panjang dan pelafalannya menuntut ketepatan; menyalinnya tanpa penyeliaan berisiko memperbanyak kekeliruan. Mintalah teks resmi dari vihara atau kelenteng tempat Anda beribadah, atau dari sumber terbitan sangha.

Beberapa hal yang perlu diluruskan

Tidak harus panjang. Membaca Vandana, Tisarana, dan Pancasila hanya memakan beberapa menit. Konsistensi setiap hari lebih bernilai daripada bacaan panjang yang jarang dilakukan.

Tidak wajib berbahasa Pali atau Mandarin. Memahami artinya adalah bagian dari lakunya. Banyak umat membaca teks aslinya lalu merenungkan terjemahannya.

Bukan mantra untuk mengubah nasib. Dalam ajaran Buddha, pembacaan berfungsi mengarahkan batin dan mengingatkan pada tekad — bukan rumusan yang bekerja sendiri.

Bila ragu, bertanyalah. Perinciannya berbeda antar vihara dan antar tradisi. Pandita atau bhikkhu di tempat ibadah Anda adalah rujukan yang lebih tepat daripada tulisan mana pun.

Sumber Rujukan

Kata Kunci Terkait

doa sembahyang buddhaparitta harianmantra buddha