
Makna Patung Buddha Tertawa (Maitreya) & Penempatannya
Ringkasan Artikel
Siapa sebenarnya Buddha Tertawa? Pahami makna Mi Le Fo, cara menempatkan di rumah, dan perbedaannya dengan Buddha Gautama.
Patung berperut besar yang selalu tersenyum itu barangkali sosok Buddha yang paling dikenal orang di luar lingkungan Buddhis. Sayangnya ia juga yang paling sering disalahpahami — termasuk soal siapa sebenarnya yang digambarkan.
Tiga nama yang sering tertukar
Ada tiga sosok berbeda yang kerap dianggap satu.
Buddha Gautama adalah Buddha historis, guru pendiri agama Buddha. Ia tidak digambarkan berperut besar maupun tertawa. Menyebut patung Buddha tertawa sebagai "patung Buddha" tanpa penjelasan lebih lanjut adalah kekeliruan yang paling umum, terutama di luar Asia.
Maitreya adalah bodhisattva yang dinubuatkan menjadi Buddha berikutnya, penerus langsung Gautama dan Buddha kelima pada kalpa ini. Menurut tradisi ia kini berdiam di istana di pusat Surga Tusita, menunggu waktu yang tepat untuk turun ke dunia. Waktunya diperkirakan sangat jauh — sekitar 5,67 miliar tahun dari sekarang, setelah masa kemunduran Dharma berakhir.
Budai adalah biksu yang benar-benar pernah hidup, bernama asli Qieci, dari masa Dinasti Liang Akhir, dan wafat pada 28 Maret 917. Dalam tradisi Chan dan Zen, Budai diyakini sebagai penjelmaan Maitreya. Patung yang Anda kenal sebagai Buddha tertawa menggambarkan Budai, bukan Gautama.
Sosok yang diakui lintas mazhab
Satu hal yang membuat Maitreya istimewa: ia diakui semua mazhab Buddha utama. Theravada maupun Mahayana sama-sama menerima Maitreya sebagai Buddha berikutnya yang kini memegang Dharma di Tusita.
Ini berbeda dari banyak sosok lain yang hanya dikenal di satu tradisi. Karena itu patung Maitreya bisa dijumpai di vihara dengan latar tradisi yang beragam.
Membaca lambang pada patungnya
Setiap unsur pada patung Budai membawa arti, dan mengenalinya membantu Anda memilih patung yang sesuai maksud.
Senyum dan tawa. Budai hampir selalu digambarkan tersenyum atau tertawa. Inilah ciri yang melahirkan julukan Laughing Buddha.
Perut besar. Bukan penggambaran kemakmuran semata. Dalam pemaknaan tradisional, perut yang lapang melambangkan kelimpahan sekaligus kelapangan hati untuk memaafkan.
Karung kain. Nama "Budai" sendiri berarti karung kain. Ia digambarkan membawa kantong berisi sedikit harta miliknya — lambang hidup sederhana, bukan lambang menimbun.
Anak-anak. Budai kerap digambarkan dikelilingi anak-anak, mengikuti kisah bahwa ia gemar bermain bersama mereka.
Nama Budai di berbagai negara
Sosok yang sama dikenal dengan nama berbeda: Hotei di Jepang, Bố Đại di Vietnam, dan Podae di Korea. Bila Anda menemui nama-nama ini pada keterangan sebuah patung, yang dimaksud adalah sosok yang sama.
Soal penempatan: bedakan ajaran dan kebiasaan
Di sinilah perlu kejujuran. Aturan penempatan patung Buddha tertawa berasal dari kebiasaan rakyat dan praktik fengshui, bukan dari ajaran Buddha. Perinciannya berbeda antar daerah, antar keluarga, dan antar praktisi, sehingga tidak ada satu aturan yang bisa disebut baku.
Yang disepakati hampir semua pihak justru bukan aturan arah, melainkan sikap: patung diletakkan di tempat yang bersih, tidak lebih rendah dari lantai tempat berjalan, dan tidak di kamar mandi atau tempat menyimpan barang kotor. Prinsipnya penghormatan, bukan perhitungan.
Bila keluarga Anda mewarisi kebiasaan penempatan tertentu, kebiasaan itulah yang sebaiknya diikuti. Bila tidak ada, meletakkannya di ruang keluarga yang terjaga kebersihannya sudah memadai.
Bukan jimat
Perlu ditegaskan karena sering dijual dengan janji berlebihan: dalam ajaran Buddha, patung berfungsi sebagai pengingat dan sarana penghormatan, bukan benda yang bekerja sendiri mendatangkan rezeki. Senyum Budai mengingatkan pada kelapangan hati dan kesederhanaan — dua hal yang justru menuntut laku, bukan kepemilikan.


