
Arti Patung Guanyin (Kwan Im): Dewi Welas Asih & Keajaiban-Nya
Ringkasan Artikel
Kisah lengkap Dewi Guanyin, makna patungnya, dan mengapa dipuja oleh jutaan umat di seluruh Asia.
Kwan Im barangkali sosok yang paling banyak dipuja di rumah-rumah Tionghoa Indonesia. Namun beberapa hal mendasar tentangnya justru jarang dijelaskan, termasuk mengapa ia digambarkan sebagai perempuan padahal awalnya tidak.
Arti namanya
Nama Guanyin tersusun dari dua kata: guan yang berarti melihat atau mendengarkan, dan yin yang berarti suara. Gabungannya kerap diterjemahkan sebagai "Yang Mendengarkan Suara Dunia".
Nama itu sendiri terjemahan dari bahasa Sanskerta Avalokitesvara. Avalokita berarti melihat atau mendengarkan ke bawah, sedangkan isvara dalam pemaknaan ini merujuk pada suara — jeritan makhluk yang menderita. Jadi nama itu bukan gelar kekuasaan, melainkan gambaran tugas: memperhatikan jerit penderitaan.
Kwan Im adalah pelafalan Hokkian, dan itulah sebabnya bentuk ini yang paling lazim dipakai komunitas Tionghoa di Indonesia.
Bodhisattva, bukan Buddha
Kwan Im adalah bodhisattva, bukan Buddha. Dalam Buddhisme Mahayana, bodhisattva adalah sosok yang menunda pencapaian akhirnya demi menolong makhluk lain. Kwan Im dikenal sebagai bodhisattva welas asih, dan itulah sifat yang paling melekat padanya.
Mengapa penggambarannya berubah menjadi perempuan
Ini bagian yang paling sering mengejutkan. Avalokitesvara awalnya digambarkan sebagai laki-laki — di India maupun di Tiongkok pada masa Dinasti Tang.
Perubahannya berlangsung bertahap. Pada awal Dinasti Song, sekitar abad ke-11, sebagian pengikut mulai melihatnya sebagai sosok perempuan. Sejak Dinasti Ming pada abad ke-15, penggambaran perempuan sudah dikenal secara menyeluruh.
Jadi bila Anda menemui patung Avalokitesvara berwujud laki-laki di vihara bertradisi lebih tua, itu bukan kekeliruan pembuatnya.
Legenda Miao Shan
Di Tiongkok, sosok Kwan Im berkelindan dengan legenda Putri Miao Shan, anak Raja Miao Zhuang.
Ringkas kisahnya: Miao Shan menolak dinikahkan karena memilih menempuh jalan kebiaraan. Ia dihukum mati, lalu turun ke neraka — dan alih-alih tersiksa, ia mengubah tempat itu menjadi surga. Setelah kembali hidup, ia mengorbankan tangannya untuk menyembuhkan ayahnya, dan atas pengorbanan itu ia menerima seribu tangan dari Buddha Amitabha.
Legenda inilah yang menjelaskan penggambaran Kwan Im berlengan banyak: bukan hiasan, melainkan lambang kemampuan menolong ke segala arah sekaligus.
Dua versi yang berdampingan
Perlu dibedakan agar tidak membingungkan. Dalam Buddhisme, sosok ini adalah Avalokitesvara Bodhisattva yang berasal dari India. Dalam Taoisme, dikenal Guanyin Niangniang, figur yang menyesuaikan diri dengan masyarakat Tiongkok pada masanya.
Keduanya hidup berdampingan di Indonesia, dan banyak kelenteng memuat keduanya tanpa mempersoalkan perbedaannya.
Membaca atribut pada patungnya
Tiga benda yang paling sering menyertai patung Kwan Im, masing-masing dengan maknanya.
Vas air suci. Wadah berisi air yang dipahami menyembuhkan dan menenangkan.
Ranting willow (yang liu). Dahan yang lentur dan tidak patah saat diterpa angin — lambang kelembutan yang justru bertahan.
Teratai. Bunga yang tumbuh dari lumpur namun tetap bersih, lambang kesucian yang lahir justru dari keadaan yang tidak bersih.
Yang diminta darinya
Karena namanya berarti mendengarkan suara dunia, permohonan kepada Kwan Im dalam tradisi biasanya berkaitan dengan pertolongan pada saat sulit, kesembuhan, dan keselamatan.
Namun perlu diingat bahwa dalam ajaran Buddha, patung berfungsi sebagai pengingat dan sarana penghormatan. Sifat welas asih yang dilambangkan Kwan Im adalah sesuatu yang dianjurkan untuk dilatih, bukan sekadar dimintakan.


